Pesona Magis Zaman Megalitikum dalam Adat Ammatoa


Kala kita menghabiskan liburan akhir pekan ke Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba, belum lengkap tanpa memasuki kawasan adat Ammatoa. Kenapa demikian? Berkunjung ke sana, berarti Anda akan mengunjungi peninggalan zaman megalitikum milik masyarakat kajang dan mempelajari kearifan lokal masyarakatnya dalam melestarikan budaya dan adat istiadatnya yang telah bertahan ratusan bahkan ribuan tahun. Memasuki daerah ini akan dicirikan dengan berbagai macam seragam (pakaian, sarung dan penutup kepala) khas kajang yang serbahitam.
Kawasan adat masyarakat Kajang berada dalam wilayah administrasi desa Tana Toa, berjarak 56 km dari Kota Bulukumba. Karena letaknya yang berada di desa Tana Toa—praktis kawasan adat ini juga dikenal sebagai kawasan adat Tana Toa.
Masyarakat di kawasan Tana Toa—adalah salah satu suku di Indonesia yang sangat teguh memegang dan mempertahankan adat istiadat. Untuk memasuki kawasan adat Tana Toa, kita harus melalui pintu masuk dengan terlebih dahulu menggunakan pakaian adat Kajang berwarna khas hitam. Kawasan inti pemukiman masyarakat Kajang berada 800 m dari pintu gerbang yang ditempuh dengan berjalan kaki. Kawasan adat Tana Toa ini sangat tertutup dan daerahnya disebut kawasan "Kajang Dalam". Masyarakat "Kajang Dalam" benar-benar masih mengikuti ajaran dan adat tradisi leluhurnya sehingga masih terjaga keasliannya. Logislah, dalam kawasan "Kajang Dalam" ini sangat tabu tentang segala hal-hal yang berbau modernisme, sehingga kawasan adat Tana Toa ini sangat tradisional sekali. Sedang kawasan "Kajang Luar" diperuntukkan bagi masyarakat kajang yang sudah tersentuh sendi-sendi kehidupan modernisme, kendati demikian dalam beberapa hal masyarakat "Kajang Luar" tetap mematuhi ketentuan-ketentuan adat yang berlaku di kawasan adat "Kajang Dalam".
Dalam kawasan adat Tana Toa terdapat suatu kawasan inti yang berada di sekitar rumah Ammatoa dan para pemangku adat. Kawasan inti ini terlihat dari letak atau pola pemukiman yang menghadap ke arah Barat atau arah kiblat, yang masih menyesuaikan dengan adat dan tradisi mereka. Letaknya berada di Dusun Benteng.
Tana Toa lahir karena ketidakteraturan yang terjadi di masa lampau. Seluruh kehidupan di dunia termasuk manusia pada waktu itu masih dalam keadaan liar. Keadaan ini mendorong sejumlah orang untuk membentuk sebuah komunitas berikut segala aturan yang ada di dalamnya yang sampai saat ini masih bertahan dan tetap dilestarikan oleh masyarakat adat.
Bahasa yang digunakan oleh orang Kajang sehari-hari adalah Konjo. Bahasa Konjo merupakan salah satu rumpun bahasa Makassar yang berkembang tersendiri dalam suatu komunitas masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat adat Tana Toa memegang teguh pasanga ri Kajang (pesan di Kajang) yang juga adalah ajaran leluhur mereka. Isi pasanga ri Kajang yaitu:
ta’ngurangi mange ri turiea a’ra’na, yang berarti senantiasa ingat pada Tuhan Yang Berkehendak.
a’lemo sibatang, a’bulo sipappa’, tallang sipahua, manyu siparampe, sipakatau tang sipakasiri, yang artinya memupuk persatuan dan kesatuan dengan penuh kekeluargaan dan saling memuliakan.
lambusu kigattang sa’bara ki peso’na, yang artinya bertindak tegas tetapi juga sabar dan tawakkal.
Sallu riajoka, ammulu riadahang ammaca’ ere anreppe’ batu, alla’ buirurung, alla’batu cideng, yang artinya harus taat pada aturan yang telah dibuat secara bersama-sama kendati harus menahan gelombang dan memecahkan batu gunung
Nan digaukang sikontu passuroangto ma’buttayya, yang artinya melaksanakan segala aturan secara murni dan konsekuen
Kelima ajaran inilah yang menjadi pedoman masyarakat dan para pemimpin dalam kehidupan sehari-hari. Dari kelima pesan ini lahir prinsip hidup sederhana dan saling menyayangi diantara mereka. Lebih dari itu adalah bentuk kasih sayang terhadap lingkungan mereka. Implementasinya dapat kita lihat dengan adanya hukum adat yang melarang mengambil hasil hutan dan isinya secara sembarangan. Masyarakat adat Tana Toa sangat peduli terhadap lingkungannya terutama pada kelestarian hutan yang harus tetap dijaga.
Dalam hal perkawinan, masyarakat adat Tana Toa terikat oleh adat yang mengharuskan menikah dengan sesama orang dalam kawasan adat. Jika tidak maka mereka harus hidup di luar kawasan adat, pengecualian bagi pasangan yang bersedia mengikuti segala aturan dan adat-istiadat yang berlaku di dalam kawasan adat. Hal tabu lainnya adalah memasukkan barang-barang buatan manusia yang tinggal di luar kawasan adat serta pengaruh maupun bentuk-bentuk lainnya ke dalam kawasan adat Tana Toa.
Mayoritas masyarakat adat Tana toa hidup dari bertani dan memelihara hewan ternak. Kehidupan masyarakat adat Tana Toa sangat sederhana, bahkan rumah mereka pun sangat sederhana, tiap rumah hanya memiliki satu tangga berikut pintu masuk di bagian depan. Pada bagian dalam tidak ada kamar, yang ada hanyalah dapur yang terdapat pada bagian depan rumah tepat di sebelah kiri pintu masuk. Penempatan dapur di dekat pintu mengandung filosofis bahwa Orang Kajang sangat mamuliakan dapur sebagai sumber kehidupan. Tidak adanya sekat ruangan memiliki makna bahwa orang Kajang ingin menunjukkan sikap keterbukaannya kepada para tamu yang datang.
Masyarakat kawasan adat Tana Toa dipimpin oleh Ammatoa yang sangat dipatuhi. Jika Tana Toa berarti tanah yang tertua maka Ammatoa berarti bapak atau pemimpin yang tertua. Ammatoa memegang tumpuk kepemimpinan di Tana Toa sepanjang hidupnya terhitung sejak dia dinobatkan. Ammatoa bukanlah pemimpin yang dipilih oleh rakyat melainkan seseorang yang diyakini mendapat berkah dari Allah SWT.
Apabila seorang Ammatoa meninggal dunia, maka Ammatoa berikutnya akan ada lagi tiga tahun kemudian. Dalam masa tiga tahun, para tetua adat akan melihat-lihat orang sekitar yang diyakini memiliki ciri-ciri tertentu yang biasanya terdapat pada seorang calon Ammatoa. Setelah masa tiga tahun, para calon Ammatoa yang telah terpilih dikumpulkan, lalu seekor ayam yang telah dilepas pada penobatan terdahulu didatangkan lagi, lalu ayam tersebut dilepas kembali, ketika ayam tersebut lepas dan hinggap pada seorang calon Ammatoa, maka dialah yang menjadi Ammatoa.
Ammatoa didampingi oleh dua orang Anronta, masing-masing Anronta Ribungkina dan Anronta Ripangi serta 26 orang pemangku adat. Ke-26 orang pemangku adat ini antara lain Galla Puto yang bertugas sebagai wakil atau sekretaris dan Galla Lombo yang bertugas untuk urusan luar dan dalam kawasan. Selain itu ada Galla Kajang yang mengurusi masalah keagamaan, Galla Pantama untuk urusan pertanian, dan Galla Meleleng untuk urusan perikanan.
Dalam kawasan adat Tana Toa terdapat hutan adat yang disebut juga hutan pusaka seluas 317,4 hektar. Hutan ini sama sekali tidak boleh diganggu gugat, sehingga tidak diperbolehkan kegiatan apapun yang dapat merusak kelestarian hutan. Kegiatan yang dimaksud antara lain penebangan kayu, perburuan hewan dan membakar hutan.
Setiap pelanggaran yang dilakukan dalam kawasan adat Tana Toa akan mendapatkan sanksi berupa hukum adat. Ada beberapa hukum adat, mulai dari hukuman paling ringan sampai paling berat. Hukuman paling ringan atau disebut juga cappa’ ba’bala adalah keharusan menbayar denda sebesar 12 "real" ditambah satu ekor kerbau. Satu tingkat diatasnya adalah tangga ba’bala dengan denda 33 "real" ditambah satu ekor kerbau, denda paling tinggi adalah poko’ ba’bala yang diharuskan membayar 44 "real" ditambah dengan seekor kerbau. "real" yang digunakan dalam hal ini adalah nilainya saja, karena uang yang digunakan adalah "uang benggol" yang saat ini sudah sangat jarang ditemukan.
Ada dua bentuk hukuman lain di atas hukuman denda yaitu: tunu panroli dan tunu Passau. Tunu panroli biasanya dilakukan bagi kasus pencurian bertujuan untuk mencari palakunya. Caranya seluruh masyarakat harus memegang linggis yang membara setelah dibakar. Jika tersangka lari dari hukuman dengan meninggalkan kawasan adat Tana Toa, maka pemangku adat akan menggunakan tunu Passau. Caranya Ammatoa akan membakar kemenyan dan membaca mantra yang dikirimkan ke pelaku agar jatuh sakit atau meninggal secara tidak wajar. Adanya hukum adat dan pemimpin yang sangat tegas dalam menegakkan hukum membuat masyarakat kawasan adat Tana Toa sangat tertib dan mematuhi segala peraturan dan hukum adat.
Selain hutan adat terdapat juga hutan kemasyarakatan seluas 144 hektar. Hutan ini boleh digarap atau ditebang pohonnya, tetapi dengan syarat harus menanam terlebih dahulu bibit pohon yang jenisnya sama dengan pohon yang akan ditebang, bibit pohon ini harus ditanam disebelah pohon yang akan ditebang. Selain ini ada pula yang disebut hutan rakyat seluas 98 hektar. Hutan rakyat digarap secara bersama-sama oleh masyarakat dan hasilnya dinikmati bersama-sama.
Bagi masyarakat Tana Toa, bumi merupakan warisan nenek moyang yang sangat berkualitas dan seimbang. Untuk itu anak cucunya berhak dan harus mendapatkan kualitas yang sama persis. Ungkapan tersebut mengandung makna filosofis yang menempatkan bumi sebagai anugerah Tuhan yang tak ternilai harganya karena menjadi sumber segala kehidupan, untuk itu menjaga alam dan keseimbangannya menjadi syarat yang utama.
Sebagai rasa syukur atas kemurahan alam, setiap akhir tahun masyarakat kawasan adat Tana Toa melakukan upacara andingingi yang artinya mendinginkan, yang bermaksud untuk mendinginkan alam. Artinya ada saatnya alam untuk diistirahatkan dan didinginkan, setelah diolah dan diambil isinya sepanjang tahun.  (*)


Untuk selengkapnya Info wisata silahkan Hububgi ke :






PT. Indonesia Paradise Tours
Ruko Grand Bintaro Blok A-7
Jl. Bintaro Permai Raya, Bintaro
Pesanggrahan – Jakarta 12320
Hp. 08999282705 .
Tel.  +62 21 73885036, 7340682
Fax. +62 21 7341494
           - faris@indietours.co.id



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka


Menyusuri sejarah sambil menikmati keindahan alam danau Maninjau
SIAPA yang pernah menyinggahi Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tentu tak pernah melupakan panorama indah Danau Maninjau yang berair biru. Pemandangan itu dapat disaksikan dari jalan Kelok Ampek Puluah Ampek. Bak lukisan, keindahan alam ciptaan Tuhan itu memberi banyak inspirasi bagi orang-orang yang pernah lahir dan besar di negeri itu.
Indah dan menakjubkan! Itulah kesan pertama Tim Explore Indonesia ketika berkesempatan mengunjungi Maninjau awal Mei lalu dalam perjalanan menuju Tanah Sirah, Nagari Sungai Batang, kampung kelahiran ulama besar Indonesia, Buya Hamka. Jalan yang berkelok-kelok, bukit yang menghijau, hamparan sawah dengan padi yang menguning, pedati dengan anak-anak yang tergelak gembira di atasnya, menciptakan senandung alam yang sangat melankolis. Sungguh, Maninjau sebuah negeri wisata yang menarik minat banyak wisatawan, baik domestik maupun asing untuk datang ke negeri itu.
Dalam buku Kenang-kenangan 70 tahun Buya Hamka, ulama pejuang itu menulis; “Saya sangat terkesan pada desa kelahiran saya. Saya sudah sering keliling dunia, tapi rasanya tidak ada pemandangan yang seindah Maninjau. Desa itu pun mempunyai arti penting bagi hidup saya. Begitu indahnya seakan-akan mengundang kita untuk melihat alam yang ada dibalik pemandangan itu…”
Keindahan alam Maninjau itu pula, sempat menggerakkan tangan mantan Presiden RI Ir. Soekarno, menulis sebait pantun, “Jika adik memakan pinang, makanlah dengan sirih hijau, jika adik datang ke Minang, jangan lupa singgah ke Maninjau…”
Pantun Soekarno itu terketik rapi pada selembar kertas putih berbingkai yang digantung pada dinding ruang tengah Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka di Kampung Tanah Sirah, Nagari Sungai Batang, Maninjau. Tulisan itu berjudul “Kenang-kenangan Hidup”. Bung Karno berucap, “Maninjau yang indah permai”. Dengan danaunya yang dahsyat, dengan sawahnya bersusun, dengan jalannya berkelok, terlukis dalam sanubari Bung Karno sebagai negerinya sendiri.
Nagari Sungai Batang memang terletak di tepi Danau Maninjau. Danau yang dikelilingi bukit Barisan itu, laksana telaga biru yang sangat indah dipandang mata. Dari jalan Kelok 44 (Minang: Kelok Ampek Puluah Ampek—red), secara utuh panorama keindahan alam Danau Maninjau bak lukisan itu dapat dinikmati. Tak ada yang tak takjub menyaksikan ke-Mahabesaran Tuhan itu.
Meski kampung itu bernama Sungai Batang, namun Batang bukanlah nama sebuah sungai. Tak ada sungai besar di Maninjau. Danau Maninjau, konon menurut tetua-tetua setempat, dibentuk oleh letusan Gunung Api Sitinjau yang berada di tengah-tengah danau yang meletus sekitar 700 tahun silam. Gunung api itu kini tak tampak lagi karena telah meletus dan membentuk kawah besar. Itulah asal usul Danau Maninjau. Ketika cuaca berubah, air danau sering ikut berubah, kadang berwarna putih susu, hitam, kuning dan biru. Kadang penduduk sekitar mencium aroma belerang yang dibawa angin dari danau.
Nagari Sungai Batang hanya memiliki luas 17,38 Km² dengan batas-batas, sebelah Utara Danau Maninjau dan Batang Maninjau, sebelah Timur Kecamatan Matur dan Malak, sebelah Selatan Nagari Tanjung Sani dan sebelah Barat Danau Maninjau. Masyarakat sekitar Danau Maninjau, di Sungai Batang khususnya, mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, pedagang dan keramba ikan. Ikan danau namanya Bada (semacam ikan bilih—red), namun masyarakat umumnya beternak ikan Nila dan Gurami yang mereka panen sekali 3 bulan.
Sekarang, suasana di Sungai Batang telah tersentuh modernisasi. Jalan-jalan kampung telah beraspal hotmix, penerangan telah masuk, begitu pula alat-alat telekomunikasi telah dimanfaatkan mayoritas masyarakat di Sungai Batang.
Yang menarik, bangunan-bangunan rumah penduduk di Sungai Batang masih mempertahankan arsitektur rumah-rumah lama layaknya zaman Belanda. Rumah-rumah yang unik dan bernilai khas. Pintu rumah yang lebar dan tinggi, ukiran-ukiran dinding yang indah, berlantai dua, ada yang beton ada pula yang terbuat dari kayu papan. Semuanya tampak kokoh meski ketuaan usia nyaris menghilangkan nilai sejarahnya.
Dengan dipugarnya rumah Buya Hamka menjadi Museum Kelahiran Buya Hamka yang diresmikan pada tanggal 11 November 2001, bagi masyarakat sekitar membawa berkah tersendiri. Museum itu pun nyaris tak pernah sepi setiap hari dari berbagai kunjungan, terutama wisatawan asal Malaysia. Dampaknya pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar pun hidup. Ada masyarakat yang membuka warung, menjual makanan dan minuman, seouvenir, bahkan menjual buku-buku karangan Buya Hamka.
Azizah Rusli (65), yang masih kemenakan Buya Hamka, melakoni aktivitasnya sebagai penjual buku-buku hasil karangan Buya Hamka, tepat di ruang depan rumahnya yang berhadapan dengan museum Buya Hamka. Meski tak seluruhnya buku-buku Buya Hamka ia jual, namun profesi yang ia geluti sejak tahun 2002 itu setidaknya membantu dirinya dan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Alhamdulillah, keuntungannya lumayan karena yang beli umumnya turis asing khususnya dari Malaysia. Mereka banyak yang ingin mengetahui lebih dalam tentang karya-karya Buya Hamka,” kata Azizah Rusli yang mengaku mendapatkan buku-buku itu dari salah satu penerbit besar di Jakarta.
Beberapa buku yang dipajang Azizah Rusli pada sebuah etalase berukuran sedang di rumahnya, diantaranya berjudul Tasawuf ModernTafsir Al AzharDi Bawah Lindungan Ka’bahFalsafah Idiologi IslamTenggelamnya Kapal VanderwijkDilamun Ombak MasyarakatIslam dan DemokrasiRevolusi AdatRevolusi Islam, dan beberapa judul lainnya. Buku-buku yang dijual Azizah Rusli itu pun berharga variasi, mulai harga Rp40.000,-an hingga ratusan ribu, seperti Tafsir Al Azhar yang berjumlah beberapa jilid.
Karena masih ada hubungan kekeluargaan, Azizah Rusli memandang Buya Hamka sebagai sosok ulama yang cukup berwibawa di kampungnya. Hamka juga seorang yang lembut, penyabar, meski di masa kecil Hamka dikenal banyak orang di kampungnya sebagai anak yang nakal. Setelah ia menjadi ulama, ilmu ayahnya, Inyiak DR. Abdul Karim Amrullah yang juga seorang ulama besar di Maninjau, seolah diwarisi utuh oleh Hamka.
“Buya Hamka memang jarang pulang ke kampung. Ia lebih banyak diluar, namun orang kampung banyak menghormatinya,” kenang Azizah Rusli.

Warisan Hamka
Hanif Rasyid Khatib Rajo Endah (70), pengelola Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka yang juga anak kandung Buya Sutan Mansur (guru pertama Buya Hamka) dengan Umi Fatimah Karim (kakak kandung Buya Hamka), adalah pengagum sosok Buya Hamka. Sejak rumah kelahiran Buya Hamka dipugar, Hanif Rasyid bersama kemenakannya Akhyar Saputra (35) setia menerima berbagai tamu yang datang menziarahi rumah kelahiran Buya Hamka.
Di rumah Buya Hamka yang sederhana itu, puluhan foto-foto kenangan terpajang di dinding-dinding hampir setiap sudut ruangan, ratusan buku, majalah dan arsip-arsip tentang Buya Hamka tersimpan rapi dalam almari kaca. Di ruang tengah rumah itu juga masih menyimpan kursi tua peninggalan orang tua Hamka Inyiak DR, tongkat Buya Hamka (8 buah), baju wisuda ketika Buya Hamka menerima anugerah Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dan sebuah koper tua ketika Buya Hamka pertama kali berangkat haji ke tanah suci.
Di ruang kamar, sebuah tempat tidur dengan kain kelambu berwarna putih masih terlihat kokoh. Di atas kasur tempat tidur itu ada sebuah kertas yang bertuliskan “tempat tidur DR. H. Abdul Karim Amrullah”. Tempat tidur itu dibatasi oleh sebuah tali dengan papan pengumuman di atasnya, “dilarang melewati lintasan”. Artinya, tempat tidur Buya Hamka yang juga tempat pertama kali ia dilahirkan hanya bisa dilihat saja dan tidak boleh disentuh. “Kalau tersentuh, khawatir akan rusak karena tempat tidur itu sudah berusia tua,” kata Hanif Rasyid.
Setiap tahunnya wisatawan yang berkunjung ke Museum Kelahiran Buya Hamka mencapai 6.000-an orang. Rumah kelahiran Buya Hamka itu dibuka dari pukul 8.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. “Namun jika kunjungan banyak sampai sore hari, kami tetap melayani agar tamu tidak kecewa,” kata Hanif Rasyid.
Setiap kali pengunjung yang datang ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, Hanif Rasyid selalu berdakwah memberi wejangan, yang tidak lain adalah pesan-pesan Buya Hamka kepada umat. “Buya Hamka meninggalkan empat pesan yang sangat menyentuh bagi orang-orang yang beriman,” kata Hanif Rasyid.
Keempat pesan itu, pertama, orang yang pintar adalah orang yang merasa bodoh. Kedua, orang yang bisa berhubungan dengan yang Maha Suci adalah orang yang mensucikan diri. Ketiga, orang yang berbahagia adalah orang yang tahu kampung halamannya. Dan keempat, ketika rumahku diketuk oleh kemiskinan, aku buka jendela dan aku melompat keluar. “Pesan-pesanya ini sangat menggugah dan merupakan bekal akhirat bagi umat yang paham jalan hidupnya di dunia,” ujar Hanif Rasyid.

Tentang Hamka
Hamka adalah nama kependekan ulama besar Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia dilahirkan di Tanah Sirah Nagari Sungai Batang Maninjau Pada Tanggal 13 Muharram 1326 Hijriyah bertepatan tanggal 16 Februari 1908 dari pasangan DR. Abdul Karim Amrullah dan Syafiyah.
Buya Hamka dalam memoarnya mengatakan, “Ayahku menaruh harapan atas kelahiranku agar aku kelak menjadi orang alim pula seperti ayahnya, neneknya dan nenek-neneknya terdahulu”. Ketika Hamka lahir, ayahnya mengatakan kepada neneknya bahwa dia akan dikirim ke Mesir agar menjadi ulama kelak setelah berusia sepuluh tahun.
Sepanjang hidupnya Buya Hamka tak henti-hentinya menulis dan berpidato. Profesinya itu telah menghasilkan lebih dari 100 buah buku, ratusan makalah, essay dan artikel yang tersebar dalam berbagai media massa. Buya Hamka membangun reputasinya sebagai pengarang yang menulis berbagai hal. Ia juga seorang wartawan dan editor di berbagai majalah, di samping itu menulis cerita pendek dan novel romantis di masa-masa sebelum perang.
Hamka adalah satu di antara pengarang terpintar diluar kalangan kesusasteraan yang resmi seperti ditulis oleh Prof. A Teeaw. Dikatakan demikian karena Hamka tidak bisa dimasukkan sebagai pengarang Angkatan Balai Pustaka. Karya Hamka mulanya muncul dalam majalah Islam, Pedoman Masyarakat dan cerita bersambung. Karena itu ia dapat disebut sastrawan “berhaluan Islam” dan menjadikan kesusateraan sebagai alat dakwah.
Dalam usia 16 tahun Hamka telah merantau ke Jawa. Alasannya karena kakak perempuannya, Fatimah Karim Amrullah, ikut suaminya Buya A.R. St. Mansyur berdagang batik di Pekalongan. Di sini, ia benar-benar menunjukkan minat belajar yang dipimpin oleh adik ayahnya, Jafar Amrullah yang menuntut ilmu di Jogya.
Dasar-dasar pengetahuan agama yang telah diperoleh di kampung, dimanfaatkan Hamka untuk memahami ceramah-ceramah Ki Bagus Hadikusumo tentang tafsir Alquran di Kampung Kauman, Yogyakarta.
Di samping itu, Hamka mengikuti kursus politik yag diberikan oleh tokoh-tokoh Serikat Islam, seperti H.O.S. Tjokroaminoto. Sehingga ia dapat memahami gagasan-gagasan sosialisme dalam masyarakat Islam. Dengan R.M. Suryo Pranoto ia mendapatkan pelajaran sosiologi dan dengan H. Fakhruddin, Ketua Muhammadiyah yang juga menjadi bendaharawan SI ketika itu, ia mendapatkan wawasan keislaman yang lebih baik dari apa yang diperolehnya di kampung. Ketika itu, komunis sedang menyebarkan pahamnya di Minangkabau, sehingga ia mudah dapat mengetahui perobahan-perobahan politik yang sedang terjadi.
Dia menyaksikan tumbuhnya pertentangan-pertentangan antara golongan Islam, Marxis, dan Nasionalis Sekuler dan telah menetapkan arahnya sendiri dengan hanya berjuang atas dasar keislaman. Dengan bekal itu ia berangkat ke Pekalongan belajar tentang Tauhid dan keislaman lebih mendalam, sehingga tumbuhlah pribadi muslim yang kuat pada dirinya.
Sebagai sastrawan, dalam karyanya Buya Hamka banyak memberikan kritik terhadap pelaksanaan adat Minangkabau yang tidak sesuai dengan agama. Beberapa di antara karya sastranya adalah, Si Sabariah (roman yang dicetak dengan huruf arab berbahasa Minangkabau), Laila MajnunDi Bawah Lindungan Ka’bahTenggelamnya Kapal Van Der WijkMerantau ke Deli,Mati Mengandung Malu (terjemahan dari Manfaluthi), Terusir, Margaretha GauthierTuan DirekturDijemput Mamaknya,Menunggu Bedug BerbunyiMandi Cahaya di Tanah SuciEmpat Bulan di AmerikaMengembara di Lembah Nil dan Di Tepi Sungai Dajlah Lam.
Buya Hamka, di Sungai Batang kampung halamannya, adalah sosok yang biasa-biasa saja bagi masyarakat sekitar. Namun semua orang tahu, bahwa Buya Hamka besar di rantau karena pemikirannya yang ingin maju dan berontak dari kemiskinan, mengkritisi adat yang kaku dan polemik keagamaan yang ketika itu menjadi konsumen publik yang sedang mencari jati diri hidup di zaman usai kemerdekaan.
Segi yang amat menarik tentang Buya Hamka, baik di kampung halamannya maupun di rantau, ialah kepribadian dan gaya hidupnya. Beliau ramah, rendah hati, murah senyum dan menyenangkan dalam percakapan perjamuan. Semua orang mengakui. Dan, bergaul dengan Hamka adalah suatu pengalaman yang sangat mengesankan. Tidak sedikitpun terasa ketinggian hati atau keangkuhan. Wajah Hamka yang teduh, seteduh dan sedamai kampung halamannya, Maninjau yang permai.


Untuk selengkapnya Info wisata silahkan Hububgi ke :






PT. Indonesia Paradise Tours
Ruko Grand Bintaro Blok A-7
Jl. Bintaro Permai Raya, Bintaro
Pesanggrahan – Jakarta 12320
Hp. 08999282705 .
Tel.  +62 21 73885036, 7340682
Fax. +62 21 7341494
           - faris@indietours.co.id



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LAWANG SEWU


Jika pergi ke Semarang, apa yang paling awal terpikirkan dalam benak anda?, adalah Lawang Sewu jawabannya. Pastinya, semua setuju dengan pendapat itu. “Tua, megah, tegap, indah serta eksotis,” itulah gambaran orang-orang terhadap bangunan yang letaknya tepat di jantung kota. Akan tetapi, keindahan semua itu sedikit pudar dengan banyaknya segelintiran orang yang juga beranggapan bahwa tempat itu horror, angker atau apalah namanya yang berbau-bau mistis!.
Namun, semua itulah yang menjadi dorongan kami untuk bertandang ke tempat yang pernah dijadikan tempat adu nyali oleh salah satu stasiun televisi swasta sekaligus dalam melakukan tugas mencari informasi tentang tempat wisata bersejarah yang ada di Indonesia.Lawang Sewu tempatnya sangat strategis dan mudah ditemukan, karena berada disalah satu sisi persimpangan Tugu Muda. Gedung Lawang Sewu dibangun pada tahun 1903 dan selesai serta diresmikan pada tanggal 1 Juli 1907. Bangunan berlantai 2 ini dijadikan kantor pusat Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij atau dikenal NIS dan ada kabar, dulu bangunan ini sebagai tempat pengurusan administrasi dan kemiliteran yang ada di Semarang. Bagian depan bangunan bersejarah ini dihiasi oleh menara kembar model gothic dan membelah menjadi dua sayap, memanjang kebelakang yang mengesankan kokoh, besar dan indah. Gedung megah bergaya art deco yang bercirikan ekslusif yang berkembang pada era 1850-1940 di benua Eropa itu, menjadi salah satu karya dua arsitek ternama Belanda yaitu: Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag.
Menelusuri lebih dalam Lawang sewu
“Bagian dalam yang masih kokoh”
Mengapa banyak orang menyebutnya Lawang Sewu, bahwa bangunan tersebut memiliki banyak pintu. Jika diartikan pintu dalam bahasa Jawa ‘Lawang’ sedangkan ‘Sewu’ itu seribu berarti “Pintu seribu”, entah siapa yang menamakan dan menghitung pintu-pintu itu!, yang jelas nama Lawang Sewu sudah melekat di setiap orang Indonesia sampai saat ini.
Kami pun mencoba melangkahkan kaki untuk masuk kedalam gedung. Dari pintu utama kami langsung dihadapkan sebuah tangga besar menuju lantai 2. Di bagian tangga terpasang sebuah kaca grafir yang menutupi jendela dengan ukiran yang indah . Memang, awal yang dirasakan saat memasuki bangunan ini agak sedikit berbeda, lorong-lorong yang minimnya pencahayaan membuat suasana agak sedikit mistis. Akan tetapi, semua itu disambut oleh keindahan pemandangan hiasan kaca-kaca patri yang penuh warna warni di puncak anak tangga. Dinding dan tiang-tiang yang masih kokoh melengkapi kemegahan struktur bangunan itu. Terpesona akan semua itu, kami melanjutkan menelusuri bagian ruangan yang lain. Memasuki bagian atas dan berdiri disalah satu balkonnya, terlihat kesibukan kendaraan-kendaraan dijalan raya serta disuguhi pemandangan taman kota di tengah bundaran jalan.
“Penjara Bawah Tanah”
Setelah puas menelusuri bagian atas, kami pun turun dan mengelilingi bagian dasar bangunan. Pintu-pintu tinggi yang berjajar dibagian sayap gedung, mengingatkan seperti apa kesibukan pada waktu itu. Adapula sebuah ruangan yang katanya berisi peninggalan jaman Belanda. Pintunya sangat kokoh sehingga belum berhasil dijebol hingga saat ini. Jadi ada kemungkinan di dalamnya masih banyak tersimpan uang dan harta benda lainnya. Benarkah demikian?
Melihat seluruh kondisi fisik eksterior maupun interiornya meski kurang terawat, decak kagum pun ada dalam diri. Bangunan bersejarah Lawang Sewu tetap menyisakan keelokan arsitektur dimasa lalu.
Puas berkeliling dibagian dasar ruangan, kami pun ketempat dimana terdapat penjara bawah tanah. Cukup dengan uang Rp 5000,-/orang kami bisa melihat ruangan-ruangan yang dahulunya sebagai tempat penjara dan penyiksaan tahanan.
Penjara yang dimaksud berlokasi dibawah tanah, mempunyai kedalam 3 meter dari permukaan. kami ditemani oleh pemandu untuk menelusuri lorong selebar kurang lebih 1,5 meter dengan ketinggian langit-langit 2 meter tanpa ada cahaya. Dengan bantuan senter besar kami memulai perjalanan, aroma yang sumpek serta genangan air mengawali penelelusuran ini, namun semua itu tidak menjadi kendala bagi kami, untuk mengetahui apa saja yang ada di sini (penjara). Dengan rasa sedikit takut, pemandu mulai menunjukan kamar-kamar disebelah kiri maupun kanan lorong. Dahulu disini adalah tempat penyiksaan bagi para tahanan oleh pihak Belanda dan Jepang.
Berikutnya, sampai pada ruangan yang berisi bak-bak beton yang tingginya mencapai 1 meter. Tempat ini juga digunakan untuk menyiksa para tahanan dengan dipaksa berjongkok dengan direndam air setinggi leher sementara bagian atasnya ditutup jeruji besi. Dengan cara penyiksaan itu ruangan ini diberi nama penjara jongkok. Sulit dibayangkan, seperti apa para pejuang kita di perlakukan seperti itu!.
Dalam penelusuran selanjutnya, kami ditunjukan sekat jejeran batu bata yang ukurannya 1x1 meter bentuknya seperti lemari. Sekat-sekat sempit inilah yang disebut penjara berdiri di tempat ini biasanya diisi 5 sampai 6 tahanan setelah disiksa dengan tertutup jeruji besi dan dibiarkan berdiri hingga mati lemas.
Ruangan terakhir yang kami jumpai adalah ruang eksekusi. Tampak satu meja terbuat dari baja tertanam dilantai. Disinilah para tahanan dieksekusi mati dengan di penggal kepalanya. Ruangan ini cukup membuat merinding, saat membayangkan kejadian kala itu, dimana para tahanan di eksekusi.
Tak terasa hampir 20 menit kami berjalan menelusuri lorong itu, dan akhirnya bisa menghirup udara segar kembali. Merupakan sebuah pengalaman bagi kami, semua perasaan tercampur aduk antara takut, tegang sekaligus menyenangkan. Tapi, sayangnya seluruh ruangan yang ada didalam tidak boleh di foto, entah kenapa?.
Sebenarnya masih ada lorong lain yang pada saat itu digunakan oleh para pejuang kemerdekaan untuk meloloskan diri dari kejaran musuh. Lorong itu menghubungkan antara Lawang Sewu, SMAN 3 Semarang dan SMAN 1 Semarang. Sayangnya lorong sudah ditutup dan tidak tahu keberadaanya. Belum lagi di temukannya kerangka-kerangka manusia disalah satu ruangan bawah tanah dengan jumlah yang sangat banyak, kemudian kisah pembantaian serta kekejaman perang yang pernah terjadi di Lawang Sewu.
Sebelumnya bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam) IV/Diponegoro dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Selain itu, pada masa perjuangan gedung ini juga memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa pertempuran lima hari di Semarang, di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat pada tahun 1945 tepatnya tanggal 8 september, antara Angkatan Muda Kereta Api Indonesia yang berusaha merebut kembali bangunan ini dari tangan Kempetai dan Kido Butai Jepang. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.
Seperti itulah pesona Lawang Sewu, walaupun tidak semua bangunan tersebut terawat dan digunakan kembali, tapi setidak-tidaknya jejak sejarah bangsa kita masih sangat mudah ditemui di kota itu. Bangunan-bangunan tersebut mungkin beruntung karena berdiri di atas kota di mana pemerintahnya masih tetap menghargai keberadaannya. Sungguh mengagumkan, bangunan tua yang masih eksis hingga sekarang. Setelah apa yang kami alami sejak awal sampai akhir dalam perjalanan wisata bersejarah ini, sudah dapat disimpulkan bahwa Lawang Sewu adalah tempat wisata bersejarah di Indonesia yang begitu indah, megah dan penuh makna serta membuat jantung berdebar. Jika ada orang yang beranggapan bahwa Lawang Sewu Angker! .”percaya atau tidak”.., kembali pada diri mereka masing-masing. Akankah lebih menarik lagi jika anda langsung yang membuktikannya!


Untuk selengkapnya Info wisata silahkan Hububgi ke :






PT. Indonesia Paradise Tours
Ruko Grand Bintaro Blok A-7
Jl. Bintaro Permai Raya, Bintaro
Pesanggrahan – Jakarta 12320
Hp. 08999282705 .
Tel.  +62 21 73885036, 7340682
Fax. +62 21 7341494
           - faris@indietours.co.id



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BENTENG UJUNG PANDANG


Saksi Sejarah Tentang Ketangguhan Kerajaan Gowa
Ujung Pandang dikenal dengan nama Ford Rotterdam, sejak lama telah menjadi salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi di Makasar, Sulawesi Selatan. Hingga kini, Benteng Ujung Pandang masih tetap berdiri dengan kokoh, dan merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah masa lalu tentang strategi pertahanan kerajaan Gowa yang luput dari kehancuran. Benteng ini telah menjadi saksi sejarah kebesaran salah satu kerajaan di nusantara, Kerajaan Gowa, walau akhirnya harus jatuh ke tangan Belanda dan Jepang.
Benteng Ujung Pandang semula dibangun pada tahun 1545 M, pada masa Pemerintahan Gowa ke-10, I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung (Karaeng Tunipalangga). Pada tahun 1634 tembok benteng ini ditata kembali atas perintah Raja Gowa ke-14, I Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin. Pada tahun 1667 Benteng Ujung Pandang jatuh ke tangan Belanda, setelah kerajaan Gowa kalah dalam perang Makasar dan dipaksa menandatangani ”Perjanjian Bongaya” (Het Bongaisch Verdrag – 18 November 1667). Belanda kemudian mengubah benteng ini dari bentuk segi empat dikelilingi liam bastion, menjadi berbentuk trapesium dengan tambahan satu bastion di sisi barat. Di dalam benteng ini dibuat unit-unit bangunan bergaya gotik. Nama benteng diubah menjadi Fort Rotterdam nama kota tempat kelahiran Gubernur Jendral Belanda, Cornelis Speelman.
Penamaan Benteng Ujung Pandang karena letaknya berada pada sebuah tanjung/ujung yang banyak ditumbuhi pohon pandan. Benteng ini apabila dilihat dari udara bentuknya menyerupai seekor penyu, itulah sebabnya di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat Gowa menyebutnya Benteng Pannyua (penyu).
Dari segi fungsinya, dapat dikatakan pada zaman Kerajaan Gowa, Benteng Ujung Pandang berfungsi sebagai benteng pertahanan yang di dalamnya terdapat bangunan khas Makasar. Kemudian oleh Belanda dibongkar yang kemudian diubah menjadi bangunan berarsitektur Belanda yang sampai saat ini masih berdiri kokoh. Selain berfungsi sebagai benteng pertahanan, benteng ini juga merupakan pusat pemerintahan dan perekonomian kerajaan, juga pada saat dikuasai Belanda. Namun di zaman kependudukan Jepang berubah fungsi sebagai pusat penelitian ilmiah, utamanya bahasa dan pertanian. Hingga saat ini, Benteng Fort Rotterdam dijadikan sebagai pusat perkantoran di antaranya Museum La Galio, Suaka Peninggalan Sejarah, Dewan Kesenian Makasar, dan sebagai Pusat Olah Seni.
Tidak jauh dari lokasi ini terdapat objek wisata yang tak kalah menariknya yakni Pantai Losari. Di tempat ini Anda dapat menikmati sunset sambil mencicipi makana khas Kota Makasar, seperti: pisang epek, palli buntung, ikan bakar, pallu basa, pallu kaloa, sop kepala ikan dan coto mangkasarak. Selain itu, tidak jauh dari tempat ini pula terdapat tempat penyebrangan ke Pulau Kayangan. Dengan menaiki perahu tradisional sekitar dua pulu lima menit, Anda telah ke pulau yang memiliki panorama pantai yang amat menawan. Tersedia fasilitas penginapan bagi wisatawan yang ingin bermalam, menyelami suasana laut nusantara di pulau ini.
Artikel : Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan
Foto : Rendez-vous Batavia


Untuk selengkapnya Info wisata silahkan Hububgi ke :






PT. Indonesia Paradise Tours
Ruko Grand Bintaro Blok A-7
Jl. Bintaro Permai Raya, Bintaro
Pesanggrahan – Jakarta 12320
Hp. 08999282705 .
Tel.  +62 21 73885036, 7340682
Fax. +62 21 7341494
           - faris@indietours.co.id



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Goa Jepang dan Goa Belanda


Dua Goa Bersejarah di Bandung
Begitu banyak peninggalan bersejarah di berbagai daerah di tanah air kita, Indonesia. Sebagian dari peninggalan itu berkaitan dengan rangkaian perjuangan para pendahulu bangsa kita mempertahankan tanah airnya. Sebagian dari peniggalan tersebut dapat kita lihat di museum-museum sejarah de beberapa kota di nusantara. Selain benda-benda bersejarah di gedung penyimpanan tersebut, kita juga dapat menyaksikan peninggalan lainnya berbentuk gedung, bangunan tua, benteng, dan lain-lain, yang tersebar di hampir seluruh daerah di negeri ini.
Salah satu peninggalan tua bersejarah yang menjadi fokus perjalanan wisata sejarah kali ini adalah dua buah goa yang terdapat di Kota Kembang, Bandung, kota tua yang sering dijuluki ”Paris Van Java”. Goa-goa ini terletak di Bandung Utara, peninggalan dari jaman penjajahan. Kedua goa itu adalah Goa Jepang dan Goa Belanda. Kedua goa ini uniknya berada di dalam satu kawasan, yakni di Taman Hutan Raya (TAHURA) Ir. H. Juanda.

Goa Jepang
Goa pertama yang kami sambangi adalah Goa Jepang. Di goa ini terdapat empat lorong untuk masuk, dimana konon katanya lorong ke dua dan ketiga sebagai lorong jebakan. Kami pun penasaran seperti apa keadaan di dalam gua itu? Untuk kebutuhan penerangan di saat memasuki lorong pertama kami menyewa dua buah senter. Lembab, gelap dan dingin adalah kesan awal yang langsung menerpa saat mulai melangkah ke dalam goa yang dibangun pada tahun 1942 silam.
Lorong yang panjang serta berliku memang cukup membingungkan. Perlahan kami berjalan melewati jalan berbatu-batu serta dinding tanah. Dahulu goa ini dijadikan sebagai tempat pertahanan tentara Jepang. Selain itu, di sini terdapat beberapa gundukan tanah yang lebih tinggi dari permukaan yang dijadikan sebagai tempat istirahat/tidur para tentara yang dikenal juga dengan nama Tentara Dai Nippon. Setelah melewati persimpangan demi persimpangan, kami keluar melalui mulut goa yang berukuran lebih besar. Di lorong ini dahulu difungsikan untuk tempat parkir dan keluar-masuk kendaraan perang.
Memang sebelum Pemerintah Sipil Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Tentara Jepang, goa ini dibangun sendiri oleh mereka (Jepang). Namun setelah Belanda menyerah, pembangunan goa diteruskan oleh orang-orang pribumi melalui kerja paksa atau dikenal dengan ”Romusha”.

Goa Belanda
Hanya berjarak sekitar 500 meter dari Goa Jepang, kita akan menjumpai goa lainnya, yaitu Goa Belanda. Goa ini berumur lebih tua dari Goa Jepang, karena dibangun pada tahun 1918. Awalnya goa yang berukuran lebih besar dari goa pertama ini dibangun untuk dijadikan terowongan PLTA Bengkok. Namun, ketika akhirnya pecah perang dunia ke-2 yang melibatkan Belanda bersama tentara Sekutu pimpinan Amerika Serikat, maka goa ini berubah fungsi menjadi Pusat Stasiun Radio Telekomunikasi Militer Hindia Belanda dan sebagai gudang senjata serta amunisi.
Berbeda dengan Goa Jepang, Goa Belanda lebih baik karena sudah direnovasi dan terawat dengan baik. Dindingnya sudah menggunakan semen. Di dalam goa ini terdapat beberapa ruangan, ruang pertama yang kami temui adalah kamar untuk tidur bagi tentara Belanda. Selanjutnya adalah ruangan untuk interogasi para tahanan, berjalan beberapa menit kita akan tiba di sebuah ruangan yang digunakan sebagai penjara. Sebenarnya, selama dalam perjalan kami melihat di bagian atap gua terdapat bekas instalasi penerangan/lampu, akan tetapi semuanya telah tidak berfungsi dengan baik. Jika diberikan penerangan justru hilang daya tariknya. Selain itu, di goa ini juga masih terdapat bekas rel roli yang digunakan untuk segala macam pengangkutan.

Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda
Taman Hutan Raya (TAHURA) Ir. H. Juanda merupakan Taman hutan Raya pertama di Indonesia, yang diresmikan pada tanggal 14 Januari 1985 oleh Presiden (Alm) Soeharto bertepatan dengan tanggal kelahiran Ir. H. Juanda. Awalnya dikenal sebagai Kawasan Hutan Lindung Gunung Pulosari dan Taman Wisata Curug dago. Saat ini TAHURA dikelola oleh Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya.
Lokasi TAHURA Ir. H. Juanda terletak di tengah-tengah wilayah Bandung yang merupakan kawasan pelestarian alam yang tersisa, yang juga berfungsi sebagai paru-paru kota Bandung. Jarak yang ditempuh hanya 5 km dari Pusat Pemerintahan (gedung sate)
Dua goa yang telah diceritakan di atas adalah saksi sejarah betapa sengsaranya rakyat Indonesia diperlakukan oleh penjajah pada saat itu. Hanya dengan menggunakan alat yang sangat minim bisa tercipta dua buah goa yang hingga saat ini masih tetap berdiri dan menggambarkan seperti apa perjuang mereka untuk merebut kembali Tanah Air Indonesia. Banyak korban yang berjatuhan pada saat itu, dan goa-goa inilah yang mengingatkan kita kembali untuk terus berusaha meneruskan perjuangan mereka, mewujudkan Indonesia yang benar-benar Merdeka...!!. Saat ini, musuh kita bukanlah Jepang dan Belanda lagi melainkan bangsa kita sendiri, diri kita sendiri. Dengan modal semangat kejuangan para pendahulu yang telah mampu membuat goa-goa spektakuler itu, kita bangun Indonesia, mengembalikannya menjadi tanah air yang subur, bangsa yang sejahtera, tentram dan damai, jauh dari kemiskinan dan keterpurukan.


Untuk selengkapnya Info wisata silahkan Hububgi ke :






PT. Indonesia Paradise Tours
Ruko Grand Bintaro Blok A-7
Jl. Bintaro Permai Raya, Bintaro
Pesanggrahan – Jakarta 12320
Hp. 08999282705 .
Tel.  +62 21 73885036, 7340682
Fax. +62 21 7341494
           - faris@indietours.co.id



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PURA SAMUAN TIGA


Saksi Bisu Keindahan Hidup Bersama Masa Silam
Pura Samuan Tiga adalah sebuah bangunan pemujaan bagi pemeluk agama Hindu di Bali. Bangunan tersebut terletak di Desa Bedulu, Gianyar, yang telah berdiri sejak masa-masa prasejarah. Hakekatnya, pura ini berfungsi sebagai salah satu media pemujaan kepada kekuatan alam dan nenek moyang.
Dalam Lontar (kitab Suci Weda) Tatwa Siwa Purana dalam lembar 11 menyebutkan, “Dan lagi semasa pemerintahan beliau Prabu Candrasangka (Candrabhayasingha Warmadewa) membangun pura, antara lain Penataran Sasih dan Samuan Tiga.”
Pada saat-saat tertentu diadakan upacara-upacara ritual di Pura Samuan Tiga. Di antara rangkaian ritual tersebut, umumnya dipertunjukkan beberapa tarian, di antaranya; Nampyog Nganten, Siat Sampian, Sanghyang Jaran Menginjak Bara, Mapelengkungan, Siat Pajeng, Pendet dan Bale Pegat untuk menghilangkan berbagai ketidaksucian atau leteh. Pada saat piodalan (semacam upacara syukuran), selalu diadakan suatu ritual agama yang sangat menarik dan unik yang disebut ritual “Mesiat Sampian“. Keunikan ritual ini bisa dilihat pada piodalan Pura Samuan Tiga pada waktu Purnama Jehsta (Kesebelas).
Menurut catatan sejarah, Pura Samuan Tiga dibangun pada Abad X dalam rangka penerapan konsepsi keagamaan pada masa silam. Saat itu, setiap kerajaan harus memiliki tiga pura utama. Untuk maksud tersebut, dibangunlah Pura Gunung, dalam hal ini Pura Tirte Empul di Manukaya Tampaksiring, Pura Penataran yang berada di pusat kerajaan yang tidak lain adalah Pura Samuan Tiga, dan yang ketiga Pura Segara.
Samuan Tiga sebagai Refleksi Kebersamaan
Pusat Pemerintahan di masa Bali Kuna berada di sekitar Desa Bedulu. Bukti sejarah menunjukkan Bedulu sebagai lokasi penting kerajaan dengan ditemukannya peninggalan arkeologi di desa tersebut. Di sinilah Pura Samuan Tiga berdiri kokoh hingga kini. Secara etimologi, kata Samuan Tiga merupakan gabungan dari kata Samuhan dengan kata Samuh yang mempunyai arti pertemuan, musyawarah dan rapat. Tiga yang berarti pada saat itu dihadiri oleh tiga pihak, jadi Samuan Tiga adalah pertemuan yang dihadiri oleh tiga pihak atau tiga kelompok.
Pada Lontar Dewa Purana Bangsul juga menyebutkan ”Pada masa itu ada lagi, Kahyangan (tempat suci) yang bernama Kahyangan Samuan Tiga sebagai tempat para Dewa-Dewata, Bahatar-Bhatari dan bagi para Resi (pendeta) yang seluruhnya mengikuti musyawarah pada masa itu.” Hingga saat ini bernama Pura Samuan Tiga.
Dari Lontar tersebut menunjukan, pemberian nama Samuan Tiga terkait dengan adanya suatu peristiwa penting yakni penerapan sistim musyawarah di antara tokoh-tokoh masyarakat yang berkaitan dengan pemerintahan pada masa Bali Kuna. Pada masa itu, kerajaan dipimpin oleh pasangan suami-istri Udayana Warmadewa dan Gunapryadarmapatni (989–1011 M). Dalam sebuah pertemuan kerajaan dicapai suatu kesepakatan untuk menerapkan konsep Tri Murti pertama kalinya, yakni dengan terbentuknya pola Desa Pakraman dengan Kahyangan Tiga. Kesepakatan itu diambil melalui suatu musyawarah tokoh-tokoh agama Hindu di Bali. Keberhasilan pertemuan ini tidak lepas dari peran Mpu Kuturan sebagai Pemimpin Lembaga bernama Majelis Permusyawaratan Paripurna Kerajaan.
Perlu dikemukakan juga bahwa pada masa itu sedang terjadi pertikaian antar sekte keagamaan di masyarakat Bali Kuna. Siwa Sidanta merupakan sekte yang sangat dominan. Perselisihan dipicu oleh klaim masing-masing sekte yang mengatakan bahwa dewa-dewa tertentu yang mereka puja sebagai dewa utama dengan simbol tertentu pula. Masing-masing penganut sekte itu beranggapan dan berkeyakinan bahwa dewa utama merekalah yang paling utama sedangkan yang lain lebih rendah.
Berkembangnya keyakinan yang bersifat sektarian itu dipandang berpotensi memunculkan ketegangan dan konflik dalam kehidupan sosial keagamaan. Untuk mengantisipasi konflik ini terus berlanjut, Mpu Kuturan memperkenalkan konsep Tri Murti dalam menyatukan semua sekte, dimana hanya ada tiga dewa utama yaitu; Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Konsep ini selanjutnya diterapkan dalam pola Desa Pakraman dengan pendirian Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem) pada setiap desa. Bagi setiap keluarga diterapkan pembangunan Sanggah Kemulan Rong.
Pola pembangunan tiga pura di setiap desa ini kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial keagamaan bagi masyarakat Bali hingga hari ini, baik di Pulai Bali maupun di banyak tempat lain di tanah air. (Disadur dari teks kiriman Dinas Pariwisata Kab. Gianyar – (Wilson Lalengke)



Untuk selengkapnya Info wisata silahkan Hububgi ke :






PT. Indonesia Paradise Tours
Ruko Grand Bintaro Blok A-7
Jl. Bintaro Permai Raya, Bintaro
Pesanggrahan – Jakarta 12320
Hp. 08999282705 .
Tel.  +62 21 73885036, 7340682
Fax. +62 21 7341494
           - faris@indietours.co.id



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS